03 Februari 2016

Bersiap siap untuk siap



Hari hari terakhir ini sepertinya menjadi hari yang cukup berat, baru kali ini setelah sekian tahun kehidupan sebagai suami ada di titik nadir, titik nadir dalam hal financial. Sebenarnya hal ini sudah dimulai sejak akhir 2014 ketika memutuskan untuk tidak terikat di satu perusahaan, alias ingin usaha sendiri. Mulai dari kala itu, jatuh bangun dirasakan, ada kala ketika dapat berkat mengerjakan 1 proyek dalam beberapa hari sudah menutup gaji sebulan setelahnya, tapi ada kala juga proyek berbulan-bulan berbuah ucapan terima kasih.
Kembali ke hari hari ini, beberapa hari lalu ketika hendak mengisi premium motor kebanggaan disalah satu pom bensin di jalan solo, disana kemudian mampir ATM untuk mengisi kembali dompet yang sudah mau kosong. Cring-cring uang mulai keluar mesin ATM tersebut, dan kemudian tiba saatnya saya cek saldo rekening. Betapa terkejutnya ketika melihat saldo hanya tinggal seratus enampuluh tujuh ribu sekian rupiah. Uang yang tidak akan bertambah sendiri di akhir bulan karena tidak ada kata gaji lagi sekarang ini.

Sesak hati terasa, gimana mau menghidupi anak istri dengan uang sebesar itu?

Ditambah setelahnya ada WA masuk dari Jakarta yang memutuskan untuk menstop proyek bulanan yang biasanya bisa untuk menolong memenuhi kebutuhan bulanan. Tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada SP1 SP2 bahkan SP3. Itulah pengusaha, sewaktu-waktu pelanggan bisa bilang berhenti tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Mulai sakit pikiran bermetamorfosis menjadi sakit gusi, karena memang kebetulan pas moment cabut gigi geraham yang tumbuhnya menyamping. 

Saat menulis inipun sudah pukul 02.30, karena memang Puji Tuhan beberapa jam lalu ada BBM yang meminta untuk mengerjakan proyek video singkat, memang gak seberapa, tapi minimal bisa buat beli susu anak saya setengah kaleng.

Yang menariknya lagi, tulisan ini belum diakhiri dengan happy ending. Iya, sekarang masih berjuang, berusaha dan berdoa, Tuhan tau apa yang kami butuhkan. 

Tulisan ini bukan diketik sebagai bahan keluhan, karena memang prinsip jangan mengeluh tetap masih bisa dipegang sampai sekarang. Ketikan ini akan menjadi tonggak untuk mengingatkan saat ada dibawah roda hidup, sehingga kelak ketika roda ini sudah berputar, rasa congkak tidak serta merta ikut meninggi.

Satu hal yang sangat menjadi pelajaran kali ini adalah ke kurang adanya siap-siap sehingga ketika masalah menghadang menjadi tidak siap. 
So, mari kita selalu bersiap-siap supaya saat ada masalah kita bisa berdiri teguh dan siap menghadapi masalah itu. 

Mari tetap hadapi masalah dihidupmu, karena kalau tak ada masalah berarti mati.

Boleh berkesah tapi jangan menyerah, boleh menangis tapi jangan terkikis, boleh berbagi tapi jangan mengasihani diri.

02.35-040216

1 komentar:

Ike Widyawati mengatakan...

Semangat, Deoonn!!!